Minggu, Agustus 01, 2010

Belajar

BELAJAR KESABARAN

BELAJAR KESABARAN
Kalau hendak belajar ilmu kesabaran, maka kita hendaknya belajar pada BUMI yang kita injak setiap harinya ini.
Bayangkan, bumi ini tidak pernah mengeluh meskipun diijak – injak ratusan juta manusia. Bumi juga tidak pernah tersinggung meskipun diludahi, dikencingi bahkan menjadi tempat buangan kotoran manusia. Ia akan dengan sabar menerima semuanya. Kesabaran apa lagi yang bisa mengalahkan bumi ciptaan GUSTI ALLAH itu? Tapi kalau manusia berbuat semena – mena terhadap bumi, maka Sang PENCIPTA akan marah dan bumi bakal menggulung dan menimbulkan malapetaka bagi manusia itu sendiri.
Contohnya, tanah longsor dan lainnya.

BELAJAR KESETIAAN
Jika hendak belajar ilmu kesetiaan, tidak ada salahnya kita belajar pada matahari. Belajar dalam hal ini bukan berarti menyembah matahari. Tidak! Tetapi kita cukup melihat, merasakan dan mencontoh kesetiaan matahari yang juga ciptaan GUSTI ALLAH. Matahari adalah tempat belajar ilmu kesetiaan karena ia dengan setia senantiasa hadir dari Timur dan terbenam di Barat setiap hari.
Matahari tidak pernah ingkar janji untuk tidak terbit.
Ada orang yang guyon dengan mengatakan, lha kalau mendung bagaimana?
Meski mendung, matahari tetap bersinar meski tertutup mendung.
Bukankah ia terus setia?

BELAJAR KEPASRAHAN / NERIMO (IKHLAS)
Jika anda ingin belajar ilmu kepasrahan dan nerimo (ikhlas), maka tidak ada salahnya belajar pada laut. Laut yang diciptakan GUSTI ALLAH adalah tempat mengalirnya beribu – ribu sungai di dunia ini. Kotoran apapun yang dilemparkan manusia lewat sungai, pasti akan mengalir ke laut. Dan laut akan pasrah menerima barang – barang buangan itu. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Laut juga akan ikhlas menerima semua air, kotoran atau benda – benda apapun yang mengalir lewat sungai. Keikhlasan yang ditujukkan oleh laut adalah keikhlasan “Lillahi Ta’ala” (semua karena ALLAH).

BELAJAR ILMU DARI TUMBUHAN
Kita juga harus belajar dari tumbuhan. Apa alasannya?
Alasannya jelas, karena tumbuhan sejak dari bibit ia hidup, ia cenderung diam. Tapi tahu – tahu lama kelamaan tumbuhan itu menjadi besar dan memberi manfaat bagi si penanamnya. Bayangkan, sebuah tumbuhan saja tahu cara menghargai dan berterimakasih pada orang yang merawatnya.
Sedangkan kita manusia ini yang disebut mahluk mulia oleh GUSTI ALLAH, malah tidak bisa menghargai dan berterimakasih pada GUSTI ALLAH yang telah merawat kita.
Apa layak kita disebut sebagai Rahmatan Lil-Alamin (manusia yang menjadi rahmat bagi semesta)?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar